Public Expose 2026, PT Leyand Internasional Tbk, Paparkan Transformasi ke Jasa Pertambangan dan Rencana PMHMETD II Rp60 Miliar di Tengah Tekanan Kinerja

JAKARTA, http://ANDONEWS.COM –* PT Leader Internasional Tbk (IDX: LEAD) menggelar Public Expose Tahunan 2026 sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada pemegang saham, investor, analis, dan media. Dalam paparan tersebut, perseroan menyampaikan profil usaha, kinerja keuangan per 30 Juni 2026, serta strategi transformasi menuju sektor jasa pertambangan.

Public expose dipimpin langsung oleh Direktur Utama Perseroan, Bapak Jamal Abdul Nasir Ramadhan, dengan agenda utama mencakup 9 poin: profil perseroan, perkembangan dan transformasi usaha, struktur pemegang saham, kegiatan usaha, kinerja keuangan, strategi pengembangan, tata kelola, serta tantangan dan risiko.

*Profil dan Transformasi Usaha*
Perseroan didirikan pada 7 Juni 1990 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 17 Juli 2001. Saat ini LEAD berperan sebagai perusahaan induk investasi dan konsultasi manajemen. Kegiatan distribusi barang konsumsi (FMCG) dijalankan melalui anak usaha PT Oksindo Eka Raya dengan kepemilikan 51%.

Perjalanan transformasi perseroan tercatat cukup dinamis. Pada 2023, perseroan mengakuisisi 51% saham di sektor distribusi FMCG, pada 2024 melakukan investasi pada dua anak usaha pembangkit listrik, dan pada 2025, PT GSI 95 menjadi pengendali baru dengan kepemilikan 51%.

Memasuki 2026, perseroan menyiapkan transformasi besar melalui rencana akuisisi PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS), perusahaan jasa pertambangan full service yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

“2026 merupakan periode penting karena perseroan sedang mempersiapkan arah baru menuju sektor jasa pertambangan dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan, tata kelola, dan kepentingan seluruh pemegang saham,” ujar Jamal dalam paparannya.

*Struktur Pemegang Saham*
Berdasarkan materi public expose, PT GSI 95 memegang 2.022.838.500 saham atau 51% sebagai pengendali, sementara masyarakat memegang 1.943.511.639 saham atau 49%. Total saham tercatat sekitar 3,97 miliar saham.

*Kinerja Keuangan Menjadi Sorotan*
Kinerja keuangan konsolidasi per 30 Juni 2026 menunjukkan tekanan yang signifikan. Penjualan turun drastis dari Rp138,51 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp1,91 miliar pada Juni 2026. Total aset juga turun dari Rp213,56 miliar menjadi Rp99,47 miliar.

Dari sisi profitabilitas, perseroan mencatat margin bruto negatif -54,9% dibanding positif 3,14% tahun sebelumnya, dengan rugi bruto Rp1,05 miliar. Rasio lancar tercatat 0,15 kali dari sebelumnya 0,82 kali. Saldo kas dan bank turun dari Rp6,81 miliar menjadi Rp474,8 juta.

Dari sisi solvabilitas, liabilitas terhadap aset meningkat menjadi 102,66%, ekuitas tercatat negatif Rp2,65 miliar, dan akumulasi rugi mencapai Rp463,1 miliar per 30 Juni 2026.

“Manajemen menyadari kondisi tersebut merupakan tantangan serius. Fokus kami adalah evaluasi kegiatan usaha, mengelola likuiditas secara hati-hati, dan melaksanakan rencana restrukturisasi,” jelasnya.

*Strategi Pengembangan: Akuisisi BSS dan PMHMETD II*
Strategi pengembangan perseroan mencakup empat hal utama:

1.  *Rencana akuisisi BSS* senilai Rp38,85 miliar untuk 87,5% saham. Nilai tersebut telah dinilai oleh KJPP sebagai penilai independen sebesar Rp30,59 miliar untuk porsi inbreng.
2.  *Rencana pengalihan saham* melalui mekanisme inbreng dalam rangka PMHMETD II.
3.  *Optimalisasi sinergi* dengan grup pengendali GSI 95.
4.  *Rencana divestasi* anak usaha yang dinilai tidak lagi sejalan dengan fokus usaha.

Untuk mendukung rencana tersebut, perseroan merencanakan Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue dengan jumlah maksimal 2 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp25 dan harga pelaksanaan Rp30 per saham, dengan target penghimpunan dana maksimal Rp60 miliar.

Dari rencana tersebut, sekitar Rp30,59 miliar akan berasal dari inbreng saham BSS oleh GSI 95, sedangkan sisanya direncanakan berasal dari setoran tunai untuk modal kerja dan pengembangan usaha.

“Transformasi ini sejalan dengan background GSI 95 yang sudah 15 tahun di industri pertambangan. Kebutuhan energi akan terus besar, dan model bisnis kontraktor tambang dengan nilai kontrak yang lumayan berpotensi menjadi sumber pendapatan berbasis kontrak yang berkelanjutan,” tambah manajemen menjawab pertanyaan peserta.

*Tata Kelola dan Risiko*
Perseroan menegaskan komitmen terhadap prinsip Good Corporate Governance (GCG) dengan menjalankan fungsi direksi, dewan komisaris, komite audit, sekretaris perusahaan, dan audit internal, serta kepatuhan terhadap peraturan OJK dan BEI.

Manajemen juga memaparkan sejumlah risiko utama yang perlu diperhatikan investor: kondisi kelangsungan usaha (going concern), liabilitas yang melampaui aset, keterbatasan likuiditas, serta perkara hukum yang dihadapi perseroan.

“Proses ini kami anggap sebagai bayi yang baru lahir, harus dipupuk, harus diberi makan, dirapikan. Kami butuh proses 2 sampai 3 tahun agar sesuai ekspektasi,” ujar Direktur Utama menjawab pertanyaan terkait komitmen pengendali baru.

Perseroan menargetkan restrukturisasi dilakukan secara bertahap hingga tahun 2027.

Public expose ditutup dengan sesi tanya jawab dengan investor dan media. Perseroan menegaskan seluruh rencana aksi korporasi akan dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan pasar modal, kondisi pendanaan, dan kesehatan operasional serta akan disampaikan melalui keterbukaan informasi resmi di Bursa.

*Disclaimer:* Berita ini disusun berdasarkan materi public expose yang disampaikan manajemen. Kinerja keuangan dan rencana aksi korporasi bersifat informasi publik dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Pimpinan Perusahasn : Ando Hoinho Manihuruk, S.T., M.T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *